Putra Daerah Bali Jadi Dirut BUMD Termuda di Indonesia, Anggota Bali Tech Startup Kawal Pengembangan Pusat Kebudayaan Bali

Perkembangan ekosistem teknologi dan startup di Bali terus menunjukkan bahwa talenta lokal memiliki ruang yang semakin luas untuk mengambil bagian dalam pembangunan daerah. Salah satu sosok yang mencerminkan hal tersebut adalah I Putu Hendika Permana, S.Kom., M.M., anggota Bali Tech Startup (BTS) yang dipercaya menjadi Direktur Utama PT Pusat Kebudayaan Bali (Perseroda) pada usia 38 tahun.
Putu Hendika dilantik pada Maret 2026 dan menjadi salah satu Direktur Utama BUMD termuda di Indonesia. Penunjukan tersebut menjadi sebuah pencapaian sekaligus tanggung jawab besar, mengingat posisi yang diembannya berkaitan langsung dengan pengembangan salah satu kawasan strategis di Bali.
Sebagai putra daerah Bali dan bagian dari ekosistem Bali Tech Startup, Putu Hendika membawa perspektif yang tidak hanya berfokus pada aspek pengelolaan bisnis, tetapi juga pada bagaimana sebuah kawasan dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
— Mengembangkan Pusat Kebudayaan Bali:
Putu Hendika mendapat mandat untuk mengawal pengembangan Kawasan Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung. Kawasan ini memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu ruang strategis yang mempertemukan berbagai sektor di Bali.
Pengembangannya tidak hanya diarahkan sebagai tempat untuk menjalankan aktivitas kebudayaan. Lebih dari itu, kawasan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang yang menghubungkan budaya, lingkungan, pariwisata, kreativitas, teknologi, dan ekonomi dalam sebuah ekosistem yang saling mendukung.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena pembangunan kawasan di Bali tidak dapat dilepaskan dari karakter dan nilai lokal. Pertumbuhan ekonomi perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas budaya serta kelestarian lingkungan.
— Green Culture District Development:
Salah satu konsep yang menjadi bagian dari arah pengembangan kawasan adalah Green Culture District Development. Konsep ini membawa gagasan mengenai bagaimana kawasan dapat dikembangkan dengan tetap mempertahankan keseimbangan antara aspek budaya, lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi.
Melalui pendekatan tersebut, Pusat Kebudayaan Bali diharapkan dapat menjadi lebih dari sekadar destinasi. Kawasan ini memiliki peluang untuk berkembang menjadi sebuah ekosistem yang mempertemukan masyarakat, pelaku usaha, komunitas, industri kreatif, sektor pariwisata, hingga berbagai pihak yang memiliki kepentingan dalam pembangunan Bali.
Jika dikembangkan secara optimal, kawasan ini juga berpotensi membuka ruang baru bagi berbagai aktivitas ekonomi dan kreativitas masyarakat lokal.
— Membuka Peluang Ekonomi Baru di Bali Timur:
Pengembangan Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung juga memiliki arti penting bagi pemerataan pertumbuhan ekonomi di Bali. Selama ini, aktivitas ekonomi dan pariwisata Bali banyak terkonsentrasi di wilayah Bali Selatan.
Karena itu, pengembangan kawasan di Bali Timur diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi baru sekaligus membuka peluang bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.
Kehadiran kawasan dengan fungsi budaya, pariwisata, kreativitas, dan ekonomi dapat menciptakan ruang bagi berbagai jenis usaha untuk tumbuh. Mulai dari UMKM, industri kreatif, sektor pariwisata, hingga berbagai inovasi berbasis teknologi yang dapat mendukung aktivitas di dalam ekosistem kawasan
Bagi Bali Tech Startup, perjalanan Putu Hendika juga menjadi gambaran bahwa talenta yang tumbuh dari ekosistem lokal memiliki potensi untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah.
Teknologi dan startup tidak hanya berbicara mengenai perusahaan digital atau produk teknologi. Ekosistem tersebut juga dapat melahirkan individu dengan pola pikir inovatif, kemampuan membangun kolaborasi, serta perspektif baru dalam menyelesaikan berbagai tantangan pembangunan.
Keterlibatan Putu Hendika dalam pengembangan Pusat Kebudayaan Bali menjadi salah satu contoh bagaimana pengalaman dan jejaring dari ekosistem teknologi dapat bertemu dengan sektor pemerintahan, budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Bali memiliki kekuatan yang unik karena budaya, alam, pariwisata, kreativitas, dan ekonomi masyarakatnya saling berkaitan. Tantangannya adalah bagaimana berbagai potensi tersebut dapat dikembangkan secara terintegrasi tanpa kehilangan karakter Bali.
Melalui pengembangan Pusat Kebudayaan Bali, terdapat peluang untuk membangun sebuah ekosistem yang tidak hanya menghasilkan aktivitas ekonomi, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi, berinovasi, dan berkembang.
Bagi Bali Tech Startup, keterlibatan anggotanya dalam posisi strategis seperti ini juga menjadi bagian dari perjalanan membangun ekosistem teknologi Bali yang semakin luas di mana pelaku startup dan talenta teknologi dapat berkolaborasi dengan berbagai sektor untuk menciptakan dampak yang lebih besar bagi daerah.
Ke depan, keberhasilan pengembangan kawasan ini tentu akan bergantung pada kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, industri kreatif, hingga ekosistem teknologi dan startup.
Dengan semangat kolaborasi tersebut, Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung diharapkan tidak hanya menjadi pusat kebudayaan, tetapi juga menjadi salah satu ruang baru untuk pertumbuhan, inovasi, dan penciptaan peluang ekonomi di Bali Timur.
Baca berita selengkapnya: https://bit.ly/4g5oy83
