Surya Sudarmadi : "AI Membuat Saya Sulit Tidur yang Justru Mengembangkan Cara Saya Memimpin"

By Bali Tech Startup - 12 Jul 2026 23:24
Surya Sudarmadi : "AI Membuat Saya Sulit Tidur yang Justru Mengembangkan Cara Saya Memimpin"
  1. Merubah Tekanan di Era AI ke Adaptasi Perusahaan
  2. Ringkasan Framework

Merubah Tekanan di Era AI ke Adaptasi Perusahaan

Catatan sederhana dari perjalanan Putu Surya Sudarmadi sebagai founder GuestPro Group

Beberapa bulan terakhir, saya merasa sedang mengalami salah satu fase perubahan terbesar sejak pertama kali membangun startup.

Bukan karena kompetitor baru.

Bukan karena kondisi ekonomi.

Tetapi karena perkembangan AI yang bergerak jauh lebih cepat daripada yang saya bayangkan.

Jujur saja, awalnya saya syok.

Ada satu momen ketika saya menyadari bahwa banyak hal yang selama ini kami bangun dengan penuh perjuangan—bertahun-tahun mengembangkan produk, membangun tim, dan menyusun proses—bisa menjadi jauh kurang relevan hanya dalam hitungan bulan.

Perasaan itu menciptakan tekanan yang sangat besar.

Saya beberapa kali sulit tidur. Bahkan sering terbangun sekitar jam tiga pagi karena pikiran terus bekerja. Rasanya seperti ada dorongan untuk terus belajar agar tidak tertinggal oleh perubahan.

Namun setelah beberapa waktu, saya mulai menyadari sesuatu.

Masalahnya bukan AI.

Masalahnya adalah saya masih mencoba memahami perubahan menggunakan cara berpikir yang lama.

Di titik itu saya berhenti bertanya, "Bagaimana cara melawan perubahan?"

Saya mulai bertanya,

"Bagaimana cara bertumbuh bersama perubahan?"

Saya mulai membaca lebih banyak, mencoba berbagai tools, berdiskusi dengan founder lain, bereksperimen, dan mengamati bagaimana AI benar-benar mengubah cara orang membangun software, bekerja, bahkan menjalankan bisnis.

Lambat laun mulai terlihat polanya.

AI bukan sekadar fitur baru.

AI mengubah ekspektasi pelanggan.

AI mengubah cara tim bekerja.

AI mengubah struktur biaya.

AI bahkan mengubah definisi sebuah software.

Ketika arah perubahan mulai terlihat, saya justru melakukan sesuatu yang mungkin terdengar berlawanan.

Saya memperlambat diri.

Bukan memperlambat inovasi, tetapi memperlambat kepanikan.

Saya kembali bermeditasi.

Merapikan prioritas.

Mengurangi distraksi.

Lalu mulai mengeksekusi satu langkah demi satu langkah.

Saya menyadari bahwa keputusan terbaik hampir tidak pernah lahir saat pikiran sedang panik.

Keputusan terbaik lahir ketika kita memahami perubahan dengan cukup baik, lalu mengeksekusinya dengan kepala yang tenang.

Hari ini saya melihat tekanan itu dengan cara yang berbeda.

Tekanan bukan lagi sesuatu yang harus dihindari.

Tekanan adalah alarm yang memberi tahu bahwa kita perlu belajar.

Belajar menghasilkan pemahaman.

Pemahaman menghasilkan arah.

Ketenangan menghasilkan eksekusi.

Dan eksekusi yang konsisten menghasilkan adaptasi.

Sebagai founder, saya percaya bahwa beberapa tahun ke depan bukan hanya tentang siapa yang memiliki AI terbaik.

Tetapi tentang siapa yang paling cepat belajar, paling rendah hati untuk mengubah cara berpikir, dan paling tenang dalam mengambil keputusan di tengah perubahan yang sangat cepat.

Inilah yang juga ingin Surya sedang bangun dan perjuangkan melalui ekosistem Bali Tech Startup, Bali Tech Village, dan GP Ventures: bukan sekadar membangun startup yang mengikuti tren AI, tetapi membangun founder yang mampu terus belajar, beradaptasi, dan memimpin di era baru.

Karena pada akhirnya, teknologi akan terus berubah.

Tetapi kemampuan untuk belajar dan beradaptasi akan selalu menjadi competitive advantage yang paling berharga.

Ringkasan Framework

Shock → Learn → Understand → Calm → Execute → Adapt

Semoga catatan sederhana ini bisa menjadi teman bagi founder lain yang mungkin sedang merasakan tekanan yang sama.

Kita mungkin tidak bisa menghentikan perubahan.

Tetapi kita selalu bisa memilih bagaimana meresponsnya.